Kesalahan Umum Saat Latihan Angkat Beban dan Solusinya. Latihan angkat beban adalah salah satu cara paling efektif untuk membangun kekuatan dan massa otot, tapi banyak orang justru mengalami cedera atau progres mandek karena melakukan kesalahan dasar. Kesalahan ini sering terjadi pada pemula, tapi tidak jarang juga dialami oleh yang sudah berlatih bertahun-tahun. Mulai dari teknik yang buruk, beban yang terlalu berat, hingga pemulihan yang kurang diperhatikan, semua bisa menghambat hasil bahkan membahayakan kesehatan. Artikel ini akan membahas kesalahan paling umum beserta solusi praktis agar latihan tetap aman, efektif, dan memberikan hasil maksimal. BERITA BOLA
Kesalahan Teknik yang Paling Sering Terjadi: Kesalahan Umum Saat Latihan Angkat Beban dan Solusinya
Teknik buruk menjadi penyebab utama cedera dan hasil yang lambat. Banyak pemula mengangkat beban terlalu berat sehingga mengorbankan postur. Contoh klasik adalah membungkuk punggung saat deadlift atau squat, yang langsung membebani tulang belakang. Solusinya adalah mulai dengan beban ringan atau bahkan bar kosong untuk menguasai pola gerakan. Selalu prioritaskan punggung netral, core aktif, dan bahu ditarik ke belakang. Gunakan cermin atau rekam diri sendiri untuk memeriksa. Kesalahan lain adalah mengunci sendi saat mengangkat, seperti lutut lurus penuh pada squat atau siku terkunci pada bench press. Hal ini mengurangi kerja otot dan menambah risiko cedera sendi. Solusi sederhana: jaga sedikit tekukan pada sendi di titik terendah dan tertinggi gerakan, sehingga otot tetap bekerja sepanjang rentang gerak.
Kesalahan dalam Progres dan Volume Latihan: Kesalahan Umum Saat Latihan Angkat Beban dan Solusinya
Banyak orang terlalu agresif menambah beban atau volume latihan tanpa memberi tubuh waktu adaptasi. Ini sering disebut ego lifting, di mana seseorang memaksakan beban berat meskipun teknik sudah mulai rusak. Akibatnya, progres berhenti dan cedera muncul. Solusinya adalah menerapkan prinsip progressive overload yang benar: tambah beban hanya 2,5–5 kg setelah semua repetisi selesai dengan teknik sempurna. Jika tidak mampu, pertahankan beban atau kurangi repetisi dulu. Kesalahan lain adalah overtraining karena latihan setiap hari tanpa istirahat cukup. Otot tumbuh saat istirahat, bukan saat diangkat. Solusi: latihan 3–5 kali seminggu dengan jeda minimal 48 jam untuk kelompok otot yang sama. Dengarkan tubuh—jika lelah berlebih atau nyeri sendi muncul, tambah hari istirahat atau kurangi volume.
Kesalahan Nutrisi dan Pemulihan yang Sering Diabaikan
Latihan angkat beban tidak akan memberikan hasil optimal tanpa dukungan nutrisi dan pemulihan yang tepat. Banyak pemula mengabaikan asupan protein atau kalori, sehingga otot sulit tumbuh meskipun latihan rutin. Targetkan protein 1,6–2,2 gram per kilogram berat badan dari makanan sehari-hari seperti telur, daging, ikan, tahu, dan tempe. Surplus kalori ringan 250–500 kalori juga penting untuk membangun massa otot. Pemulihan sering dianggap remeh: tidur kurang dari 7 jam atau tidak cukup istirahat antar sesi membuat tubuh tidak bisa memperbaiki otot dengan baik. Solusinya adalah tidur 7–9 jam setiap malam, konsumsi karbohidrat setelah latihan untuk mengisi glikogen, dan lakukan peregangan serta foam rolling untuk mengurangi kekakuan. Hindari latihan saat tubuh masih sakit atau sangat lelah—istirahat lebih baik daripada memaksakan dan cedera.
Kesimpulan
Kesalahan umum saat latihan angkat beban seperti teknik buruk, progres terburu-buru, serta kurangnya nutrisi dan pemulihan bisa dengan mudah dihindari dengan kesadaran dan disiplin. Fokus pada teknik yang benar sejak awal, tambah beban secara bertahap, dan prioritaskan istirahat serta asupan makanan akan membuat latihan lebih aman dan hasil lebih cepat terlihat. Angkat beban bukan perlombaan kecepatan, melainkan investasi jangka panjang untuk kesehatan dan kekuatan tubuh. Mulailah dengan sabar, dengarkan tubuh, dan nikmati prosesnya—hasil besar datang dari konsistensi, bukan dari kesalahan yang diulang. Selamat berlatih dengan bijak!
